Dan ada lagi yang membuat percikan gincu di jemariku. Setetes luka yang telah tertutup oleh letih pendakian. Cemara yang ramai menari di pucuk surat darimu. "Dari Mana ?" dia melirih. Hingga lirihku membuat semua terpisahkan.
Seketika aku melambung jauh, melewatkan bagian yang seharusnya. Dan seketika aku terjatuh sakit, seperti ini rasanya telah melihat terlihat. Luka ini telah mekar, dan aku yang menuainya setelah tergantung.
Mata hitam, tempat bercermin ria dengan cahaya. Tanpa ada yang terbalik diatasnya. Suara hitam yang cengeng meraung disebelah mata. Sekecipak katamu yang menguning langsat. Di celah mata hitam yang ku teropong, mempunyai sebersit kilat cahaya. Namun bukan bulan, entah darimana kilatan itu.