Tuhan memberangsang...
Selepas berantaku berenggil di airmatamu...
Agar ku kayuh tangguh, menjadi berkung...
Air matamu kering...
Kau berkabung...
Lowokwaru, 2016
Tuhan memberangsang...
Selepas berantaku berenggil di airmatamu...
Agar ku kayuh tangguh, menjadi berkung...
Air matamu kering...
Kau berkabung...
Lowokwaru, 2016
Tak terhitung entah berapa kali aku memanggilmu “Bunda”
hingga membuahkan sebuah rumah kaca yang butuh tanda
kehidupan. Tapi ia hanya sempat memberi tanda di keningku.
Sebenarnya aku adalah perajuk yang cengeng air mataku
tumpah dari kaki, sepertinya air mataku tak semahal senyummu.
Senyummu yang manis semanis jidadmu. Tak perlu kau berkaca,
Karena mataku sudah mengaca agar kau tak ayal untuk membaca.
Boleh kau tau, rahasia ini memasuki darahku, air mataku jadi alir yang
Bergerak dari hulu kehilir. Dan aku bias matahari merupa doa yang senyap
Malam malam. Dan padanya pula aku memilih gantung diri dan mati sebelum pagi.
Karena…
Doaku memanggilmu Bunda…
Bukan keinginan hasrat yang diutus kedewasaan zaman…
Sepulang dari berdoa aku menyantap hidangan Tuhan, Tuhan menjamuku
dengan surat kabar pagi yang Ia tahu bahwa aku belum makan dari pagi.
Agar kuhabiskan cepat cepat sebelum beritanya loncat loncat, yang aku dapat
bahwa hidup terkadang harus bunuh diri, agar tampak lebih keren dengan balutan
kantong oren untuk mayatku. Yang aku pikirkan bagaimana sehebat itu mayatku,
lebih pantas mayatku dibungkus koran agar tampak seperti makanan untuk bekal
pemulung koran yang aku tahu bahwa nasibnya lebih indah dari nasibku.
Aih mak, jauh sekali aku memikirkan mayatku,
sedangkan Tuhan dengan mimik bingung menatapku dalam.
“Dimana seriosmu?”
“Dia sudah jatuh kemarin dengan penuh luka dan aku kuburkan”
Dua detik kemudian aku terbelenggu dalam ucapanku.
Bagaimana aku menguburkannya?
Tiga detik kemudian aku bercerita.
“Tadi pagi ada yang bunuh diri dengan tali kata, dia mati menggigil.
Lalu jasadnya dibungkus koran agar pemulung mengambilnya karena
Nasib pemulung lebih baik dari nasibnya. Aku pikir dia bodoh sekali
Mati hanya karena koran. “
Tuhan hanya senyum saja Dia tahu bahwa aku pembohong yang buruk.
Lalu aku pamit pulang dan sedikit menghidu uap kopiNya.
Empat hari berselang aku bunuh diri. Bukan dengan tali karena aku takut menggigil
Tapi aku terjun dari lantai satu karena aku takut ketinggian. Dan ruhku tersenyum
Melihat jasadku dibungkus koran. Dan dipungut pemulung koran.
Yang aku lihat pemulung itu merupa diriku, lalu dia menguburkanku
dihalaman pembacanya. Seraya berkata;
“Nasibmu begitu indah, tak seindah nasibku yang berulang kali
Mengecap jasadmu. Ku kuburkan kau seperti serios ku agar kau bingung”
Lalu dia melepas topinya dan pulang setelah berdoa
Karena Tuhan telah menjamunya dengan surat kabar pagi.
Karena ia belum makan dari pagi.
Aku bukan mati karena koran…
Tapi aku mati karena kau tak lagi memanggilku…
Jatinangor, 2015
/1/
Suara adzan bersusun-susun mengapung diatas cangkir, malam telah dihidang Tuhan menjadi aku dan waktu. Yang berkejaran diatas piring, menunggu kapan suaramu tak menyerupai sebatang pohong yang dikerdilkan tangan yang disamarkan gerhana.
/2/
Ada sepi terkubur bersama pasir, menyembunyikan kisah, sejarah dan catatan harapan, disampaikan kepada deru jalanan. Orang-orang yang memburu kecemasan.
/3/
Aku tidak menutup mata
Aku mencoba mengerti rasa terang,
Namun gelap membungkusku.
Aku belajar memahami makna cahaya…
/4/
Meski kau berkali-kali mewarnai ulang, dan berkali-kali pula menambahkan dengan gradasi tebal tipis yang teliti. Agar terlihat jelas (di gambarmu), bagaimana kau memburu gelap ketika menyimpan terang. Atau terang menyelimuti tenang. Atau mungkin ketika diantara keduanya, terselip sebait hujan seperti ini;
Tik.. tik.. tik.. Kau mau anggurku???
/5/
Terkadang kau harus berikhtiar saban malam.
Agar angina ribut menjadi angin kecil yang
Memugar merah melingkar di tengkukku.
“Apakah koinmu tertinggal dikepalaku???”
/6/
Matahari dan bulan bertukar cahaya
Kau berkata cahaya terang akan segera terbit
Setelah gelap menghapus jejaknya dari pejalan kakia
Bilamana benar begitu adanya
Malam ini akan aku matikan lampu dikepalamu
Walau gelap membungkus mataku untuk dibawa pulang.
Jatinangor, 2015