Tampilkan postingan dengan label September'13. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label September'13. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 September 2013

Tanah Kita



Di sebelah sana tanah kita…
Terdengar ceritanya dari ventilasiku…
Pada deretan penggumam ulung…
Yang harus rela bersandar di tanah kita…
Ditanah kita ini…
Berdiri pemuda dengan kecakapannya…
Naik tangga panggil pemerintah…
pak, saya ingin seperti bapak..”
Lalu turun mempersiapkannya…
Tanah kita hebat…
Punya pabrik produksi pemuda hebat…
Lalu menjadi pemimpin yang cermat…
Yang mau berjuang sampai sekarat…
Karena ini tanahku, tanahmu, tanah kita…

Jumat, 20 September 2013

Jalan malam

Bersembunyi dibalik jam dinding...
Bertopi jaket bersarung bahan...
Rintik-rintik gerimis...
Dijalan malam nan gelap...
Berderet kerikil kecil-kecil...
Hingga memuntahkannya ketepian...
Mengacaukan sebaris penjejakan...
Sembari menetaskan korek api...
Agar dibakarnya kejalan malam...
Biar terang...

Kamis, 19 September 2013

Bangkitkan aku

Aku yakin dalam kesunyian...
Aku kuat ketika berada di bahumu...
Lalu aku petik di udara, dengan itu...
Kemudian jatuh tak berkeringat darah...
Namun diam, seperti pergi...
Bangkitkan aku...

Bangkitkan aku...
Ketika aku berdiri di permukaan...
Terjal suram menerjang...
Dan datang dengan keraguan...
Diam dan duduk disampingku...
Derap langkah mengantuk,
Lalu terbang seketika dalam puisi alam...
Hingga merintih sekarat pada porosnya...
Kemudian mati...

" Bangkitkan aku Tuhan "

Selasa, 17 September 2013

Lusuh



     Dalam rintihan meja kayu antik berkaki empat tanpa pengagum. Meleburkan harmonis disudut lusuh itu. Sebersit takjub juga ngeri. Berderet angka mencuat, menusuk dahi kiriku. Susaah dilafalkan mampu mengahafalkan kenangan usang. “ dia yang baru aku yang lusuh “. Lalu kengkuahan meringis karena berbohong. Cuaca demi cuaca menampilkan cerah yang tak sejati. Entah kebenaran apa akan menghangatkan, lalu menghanguskan.
      Awan kelabu tak pantas menjadi sorotan. Semakin melusuhkan aku. Lalu dipotongnya kecil-kecil. Terkutuk sebagai makhluk ciptaan. Dengan melirik lidah disebelah meringkuk tajam kearah mata melara. Ruang mungil satu garis untuk tamu. Datang dalam inti harimu. Ketika pelangi meluruh usai gerimis.

Minggu, 15 September 2013

Menggumam


Hujan menerpa di pekarangan...
Menetes, menyegarkan daun itu...
Diatas teras berserakan gumamanku...
Tak kunjung selesai diantaranya...
Dan sesat di tengahnya...

Jalan ini bermurah hati...
Menuntun kearah curahannya...
Kuserakkan kembali gumamanku...
Lalu kususun diatas rak-rak...
Dan berhenti pada chorus terakhirku...

Mengidam apa aku?
Sibuk dengan goresan dan demam...
Mengundang duri pada jalanan...
Dan duduk di kursi Roda...
Lalu menggumam lagi...

Darah ini tak mahal...
Agar kutanam disebelah sana...
Lalu kutenggak ke arah sana...
Hingga akhirnya...
Mengunci dirinya...

Di sebelah sana


Disebelah sana ada kedai kopi...
Namun saya hany menghirup aromanya...
Disebelah sana ada warteg jalanan...
Namun saya hanya melihatnya...
Dibelakang sana ada pabrik roti...
Tapi saya hanya kebagian bunyinya...
Didepan sana ada Restaurant...
Disini saya hanya di gumam do'a...

Di siang yang sunyi

Tak ada cerita pada lentera siang ini...

Segitu kiranya.,,, timbul dari sisi atas...
Tapi kesunyian, mengumpat dalam...
Terjanglah agar keluar...

Jumat, 13 September 2013

Makam Penjual Es

Lukiskanlah keabadian dimatamu...
Yang menyuruhmu, berhenti disini...
Merusak tajuk peluhmu...
Dikala itu, kau katakan...

"Es..., es..., es..., es...,"

Berteriak disudut-sudut penantian...
Meninting beban kau sematkan...
Namun cinta kasih, anak bungsumu...
Tergeletak lemah menahan sakit...
Lalukau pulang, tersenyum...

"Sabar ya nak..."

Belum lelah sebelumnya begitu...
Hingga kau dapat pasti, anak bungsumu...
Namun Tuhan sedang mempermainkanmu...
Giliranmu yang membisu...
Diam, tenang dalam nadimu...
Dan ketika...
 Anakmu selamat, kau kiamat...

Rabu, 11 September 2013

Binar


Dari sekian tetesan luka...
Memulai adanya paduan...
Disetiap jari yang berandai...
Mengenang apakah bersulang derita...
Meninggalkan lembaran cerita...
Menghadap binarnya...

Menyentuh lirih suaraku...
Mengurung dingin tak berketuanan...
Mengusung kelingking di pelupuk mereka...
Dalam melukis serpihan di ubun-ubun...
Melempar suka di lebatnya hujan...
Tanpa berbisik menghitung detiknya...
Sampai kepada kenyataan baru...
Yang dirangkumnya sekalian malam...
Yang dirapikannya sekalian tenang...
Dengan berlayarkan realita tua
Yang dirancangnya sekalian luka...

“ Tak ada ceria dibalik cerita, menurutmu ”

Berkeringat disurutnya Cahaya...
Yang hanya bersandar pada lampu templok...
Begini duduknya disana...
Menghampiri getir dikala pudar...
Sebelum terkulai disampingnya...
Seperti tidur membuka mata...

Kini merekam mimpi yang sudah-sudah...
Beraduk Mencampur rata telah...
Lalu membuka satu-satu disetiapnya...
Tanpa merevisi lagi...
Mengulang cerita dari raupannya...
Disela gelisah tertumpah ruah...
Ia merangkak disetiap arogansi...
Lalu tertuju disebaliknya...
Mengutara serangan dingin...
Sedang apakah aku disana?
Dengan binarnya...

Lagu ini



Redup menerpa di pelupuk...
Melambai arti tidak disini...
Benar memang kau...
Yang menyuruhku diam mendengarkan...Aku benar ini...
Tepat kau benar...
Lewat lagu ini...

Siang hari di kelas

Memutar otak mencari warna...
Wangsit mana yang tahu...
Kumpul, semua kumpul...
Sini, sini...
Hahaha, meriang tak paham lagi...
Jangan diam kawan, bersuaralah...









Selasa, 03 September 2013

Jelas?



Kurasa letih dalam peraduan...
Menyimak setiap tetesan luka...
Dicabang -cabang tua rapuh...
Dekat pucuk berujung manis...
Sukar berbunga dua...
Dan bernyanyi dimalam-malamnya...

“Ikuti irama alam, Rahasianya adalah kesabaran...”

Mereka tua berselisih payah...
Mengutip Setiap ketuan...
Tanpa diketahui tuan malam...
Hmmm... aku lelah...

Belumkah jelas?
Setiap pelarian adanya mu...
Mengusik terhakimi disudutnya...
Dan kembali setelah luka...
Sedih sekali ini...
Ingin aku...
Tenang sajalah...

Tuan lagi debat lagi...
Tentang malam tak kunjung usai...
Yang menelan senja kusut ini...
Tanpa bekas luka di padunya...
Namun, jelaskah ?
Ingin aku...

Tanpa malam ya?
Menyerukan sebintik pelukannya...
Tapi akankah pudar dengan demam...
Sakitnya bukan main...
Makanya aku beri aku...
Agar tahu kalian, Jelaskanlah

Senin, 02 September 2013

1 Sept



Lembar ini menunjukkan jalannya...
Dua jalan berbeda pula...
Dimana yang satu Berfikir...
Yang itu memikir...

Tepat dibawah sorot bohlam...
Yang itu tak sempurna bukannya...
Usahanya berkelahi dengan waktu...
Untuk itu, satu tak mengerti...
Karena waktu itu berkerut cepat...
Ya itu Kasihan...

Andai saja satu tahu itu...
Yang berjalan menelusui malam...
Menoleh tak terindahkan...
Yang satu sadis, itu menangis...

“Salah aku adalah aku, ya”

Mudah itu terngiang diatas awan...
Satu berusaha tak perduli itu...
Tapi itu?
Huh...

Tahu itu, itu rekat itu...
Artinya, satu...
Apakah itu sekeras ini..?
Kasihan itu...
Tak terindahkan dari sekian itu...

Dua jalan berbeda bukannya?
Itu ingin waktu yang terselip...
Tepat pentingnya itu...
Disaat satu memberanikan itu...
Disaat satu itu bermain..

“Ingatkan ya? Aku takut...”

Gelap sajalah ini...
karena itu membantu itu...
Sebab itu pengecut...
Terimakasih...