Dari sekian tetesan
luka...
Memulai adanya
paduan...
Disetiap jari yang
berandai...
Mengenang apakah
bersulang derita...
Meninggalkan lembaran
cerita...
Menghadap binarnya...
Menyentuh lirih
suaraku...
Mengurung dingin tak
berketuanan...
Mengusung kelingking di
pelupuk mereka...
Dalam melukis serpihan
di ubun-ubun...
Melempar suka di
lebatnya hujan...
Tanpa berbisik
menghitung detiknya...
Sampai kepada kenyataan
baru...
Yang dirangkumnya
sekalian malam...
Yang dirapikannya
sekalian tenang...
Dengan berlayarkan
realita tua
Yang dirancangnya
sekalian luka...
“ Tak ada ceria
dibalik cerita, menurutmu ”
Berkeringat disurutnya
Cahaya...
Yang hanya bersandar
pada lampu templok...
Begini duduknya
disana...
Menghampiri getir
dikala pudar...
Sebelum terkulai
disampingnya...
Seperti tidur membuka
mata...
Kini merekam mimpi yang
sudah-sudah...
Beraduk Mencampur rata
telah...
Lalu membuka satu-satu
disetiapnya...
Tanpa merevisi lagi...
Mengulang cerita dari
raupannya...
Disela gelisah
tertumpah ruah...
Ia merangkak disetiap
arogansi...
Lalu tertuju
disebaliknya...
Mengutara serangan
dingin...
Sedang apakah aku
disana?
Dengan binarnya...
0 komentar:
Posting Komentar