Aku
berbaring pada hembusan nafas terakhir, sebelum kembali menariknya
dari segerombolan ikatan-ikatan yang mempunyai sisi terluar. Dalam
senyum yang bermekaran disapu angin tak tertunggang. Sang penabur
angin sedang ingin bermain denganmu. Sang penabur angin sedang ingin
bergurau denganku. Sembari melihat mentari yang mati di ufuk dengan
meninggalkan seribu seratus tigabelas kata dalam tangisannya.
Tampilkan postingan dengan label Oktober'13. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oktober'13. Tampilkan semua postingan
Rabu, 30 Oktober 2013
Matanya
Tuhan,,, bukankah aku telah berguling dari lemahnya kelambu yang menjaga tidurku. Disepersekian detik yang menggantung, tercerai sederet gonggongan yang meminta malam menjual kalam. Dengan begitu aku menikmatinya, pada sederet gambar-gambar yang tersunyikan pada duka yang kedua. Lalu meneropongnya lewat matanya.
Selasa, 29 Oktober 2013
Bolehkah?
Maaf, tadi aku bermain dibelakang kursi roda yang berjalan ditempat, aku berada. Lalu kemudian kamu keluar, lalu aku berkata "Bukan aku ya...?" tapi bolehkah aku?,, Andai saja.
Senin, 28 Oktober 2013
Kamu (2)
Dua seperdelapan waktuku
berubah debu yang dimana saja dia jatuh. Tanpa sosok pengagum yang
tersakiti atasnya, yang tak ada kepalsuan diatasnya. Aku benci
kegilaan datang pada saat ini, yang aku pulang membawa
jendela-jendela itu. Lalu waktuku diukir senja kusut yang menyuruhku
tunduk di sebuah kubus yang terletak kubah diatasnya. Sambil
menampung tangan “Tuhan, nyatakanlah ini...”. Dan ditutup dengan
kata “Kamu”.
Kamu (1)
Disaat pembatas
mempertemukanku pada sebuah jendela. Lalu membuka jendela-jendela
putih baru lainnya. Yang terisi oleh sebuah titik dari perihnya mimpi
kedua setelah jendela pertama. Lalu palsu ditengah menunduk “Siapa
aku?”, kembali meringis mengomentari kebodohan yang menari di
otakku “ya, siapa aku!”. Kini kembali ke jendela ke dua, yang aku
mengotak-atik di dalamnya, lama sekali tapi aku menang, sehingga tak
ada palsu yang menamparku.
Sabtu, 26 Oktober 2013
Melekat (2)
Tapi aku masih satu...
Lalu sampai pada kenyataan baru...
Pelangi meluruh dan lusuh...
Berkumpul di sepersatu aku berdiri...
Dia dan mereka bubar karena itu...
Lalu aku mengupas sedihku pada seperlima terakhir...
Dalam injakan sang pengagum...
Yang melekat pada kutukannya...
Lalu sampai pada kenyataan baru...
Pelangi meluruh dan lusuh...
Berkumpul di sepersatu aku berdiri...
Dia dan mereka bubar karena itu...
Lalu aku mengupas sedihku pada seperlima terakhir...
Dalam injakan sang pengagum...
Yang melekat pada kutukannya...
Melekat (1)
Mana mereka dan aku...
Dibalik geramnya malaikat shubuh...
Berselonjor bersama semangkuk susu...
Kemudian berbaring di pangkuan kursi kayu berkaki empat letih...
Sebelum dan sesudahnya dia pergi...
Dibalik geramnya malaikat shubuh...
Berselonjor bersama semangkuk susu...
Kemudian berbaring di pangkuan kursi kayu berkaki empat letih...
Sebelum dan sesudahnya dia pergi...
Sunyi
Bagaimana sunyi bercerita dalam setiap teriakannya? yang masih mampu aku jawab; Ketika sunyi berteriak, disana saya bercerita diam pada kunang-kunang. Seperti membuat puisi yang berbentuk guci di setiap sisi-sisi tumpul, lalu di secangkir teh yang tersedu untuk hujan pada senja yang sunyi.
Jumat, 25 Oktober 2013
Payung
Kembali ke rintik-rintik itu...
Segar dan bisa kubawa sembunyi...
Sembunyi dari pada rintik-rintik...
Kemudian besar lagi...
Mereka tidak tahu aku bersembunyi...
Dibawah payung ini...
Segar dan bisa kubawa sembunyi...
Sembunyi dari pada rintik-rintik...
Kemudian besar lagi...
Mereka tidak tahu aku bersembunyi...
Dibawah payung ini...
Kamis, 24 Oktober 2013
Buram
Bukan malang yang menangis di pekarangan...
melalak sedikit kearah angin...
Yang senja pamit dari pekarangan ini...
Menyelam buram...
melalak sedikit kearah angin...
Yang senja pamit dari pekarangan ini...
Menyelam buram...
Sabtu, 19 Oktober 2013
Lonceng
Dimulai dari lonceng yang menggeber
Selalu memakan bualannya
Yang merongsok pilu didepan buritan
Tersangkut antara lonceng kedua
Dan berakhir di seperempat lonceng keempat
Selalu memakan bualannya
Yang merongsok pilu didepan buritan
Tersangkut antara lonceng kedua
Dan berakhir di seperempat lonceng keempat
Jumat, 18 Oktober 2013
Duka
Lewat seperempat jam aku menungging
Pada liang-liang yang menyergap
Dalam hembusan kecil-kecil yang bermukim duka
Disela-sela tawa rintik-rintik
Terdapat satu ketiadaan
Pada liang-liang yang menyergap
Dalam hembusan kecil-kecil yang bermukim duka
Disela-sela tawa rintik-rintik
Terdapat satu ketiadaan
Kamis, 17 Oktober 2013
Mati Lampu
Kali ini bohlam berkedip
Lalu itu kedipan terakhirnya
Segenap bulan dan bintang turut berduka
Atas kejadian tragis ini
Lalu itu kedipan terakhirnya
Segenap bulan dan bintang turut berduka
Atas kejadian tragis ini
Senin, 14 Oktober 2013
Terakhir
Pada deretan pintu tua klasik shepia. Terbungkus rapi di setiap bagiannya. Bagaimana retak ini bersembunyi di dalam jemari. yang disebelahnya tertutup rapi hiasan rindu, yang berakhir pada detik ke-12 dari terbukanya surat kecil bernamakan "AKU". Lalu berfilosofi dalam sebuah warna senja yang tergelincir diatasnya, sembari memanggil kekasih pada saat terakhir yang berakhir pada sebuah karusel.
Terakhir saja..., baiklah berangkat ke sebuah titik balik yang melemparkan kita pada tiap-tiap episode, dan merajang setiap tawanan yang bermain disisi terisolasi. Tolong aku ingin menertawakan setiap adegan yang menangis di kala rasi bukan milik dia, yang kemudian di bungkus rapi pada sebuah rasa yang ditempatkan pada pintu terakhir.
Terakhir saja..., baiklah berangkat ke sebuah titik balik yang melemparkan kita pada tiap-tiap episode, dan merajang setiap tawanan yang bermain disisi terisolasi. Tolong aku ingin menertawakan setiap adegan yang menangis di kala rasi bukan milik dia, yang kemudian di bungkus rapi pada sebuah rasa yang ditempatkan pada pintu terakhir.
Sabtu, 12 Oktober 2013
648.000
Sejarah tua saya dirangkap dua...
Melewati 648.000 tiap detakannya...
Menyuarakan seruan yang bergelimpangan...
Dalam sunyi dia datang...
Lebih 648.000 kemudian...
Dia tak datang...
Melewati 648.000 tiap detakannya...
Menyuarakan seruan yang bergelimpangan...
Dalam sunyi dia datang...
Lebih 648.000 kemudian...
Dia tak datang...
Minggu, 06 Oktober 2013
i
Menyuruhmu untuk disini...
Berharap pelangi tak cepat pergi...
Yang membawa sebersit rintihan hati...
Pada setiap episode pertama ini...
Namun melainkan kembali kesisi-sisi....
Lalu mengisinya dengan sentuhan nadi...
Kemudian berjalan kearah mentari...
ehmmm... baiklah akan kuakhiri...
Pada kata terakhir bertuliskan"i"...
Tukang ngobrol
Tak tahu singkatan, tak tahu ringkasan...
Masih berkutat di topik yang sama...
Sudahlah, kawan akhiri saja...
Oke, kau menang...
Kami tidak selalu membeli katamu...
Oh... kawan...
Kau memang pedagang kata....
Sabtu, 05 Oktober 2013
Bu...
Itu suara anakmu...
Bu, ibu, ambilkan makan ibu...!
Itu suara anakmu...
Bu, ibu, buatkan aku roti ibu...!
Itu suara anakmu...
Kau menyuruh anakmu?
atau anakmu yang menyuruhmu?
Dalam hatimu terbesit...
Apakah ibu adalah pembantu????
Kemarin Sore
Adalah titik awal keberangkatanku...
Pada goresan tinta jemari tanganku...
Yang terletak di ibu jariku...
Belum hilang nyanyian ini...
Sambil menari diatasnya...
Beradu kuat dengan alunanku...
Yang pantas disebut tak sempurna...
Disore ini...
Putihnya Hitam
Yang memulai adanya senyuman...
Pada secangkir canda yang hangat...
Lewat sepertiga putihnya malam...
Yang tercatat pada kalender bulanan...
Lalu mengusung janji ditengahnya...
Awam berkata...
"Hitam tetap hitam"
Tapi pemikir berkata...
"Putihnya hitam"
Lalu terdiam bersama pada kata "berakhir"
Dan dalam setiap tulisan...
Memulai adanya sebuah kata kunci...
Yang dijadikannya kedalam malam...
Sembari merajuk ditepian jalan...
Lalu berkata...
"Bodoh! tak pernah hitam menjadi putih"
Itu menurutmu...
Tapi, coba kau lihat hitam dari sebuah titik balik...
Putih bukan?
Siapa yang bodoh?
Langganan:
Postingan (Atom)