Tampilkan postingan dengan label # Puisi Laila. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label # Puisi Laila. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Agustus 2017

Kian

/1/

Kian
Kepalaku dihujam kata-kata.
Dipagi buta, dibalik pagar,
sisa umurmu, dan puisi yang tertuang.
Akan kuhabiskan dikota hujan.
Bersama masa lalu dan harga sebuah waktu.

/2/

Aku suka tersenyum
Kau sebut kepalaku dua ekor anjing
Yang berkaing-kaing bising.
Dan penari tamu yang tariannya lebih deras
daripada hujan dikotamu.

/3/

Diam-diam anjingku menggigil
Kekalutan menjeratnya semalaman.
Kaingnya kian jauh untuk liar dari keramaian.
Kau takut anjingku liar dikepalamu?
Sudahlah kau jongkok saja dari kejauhan.

/4/

Lalu,
Tulislah tentang ekor-ekor anjingku
Dalam perasaan sengit
Agar kuganggu tidurmu
Dengan kaing anjing dikepalaku.

(Jatinangor, 2017)

Sabtu, 15 Juli 2017

Kucing Dan Pesta Puisi

Kucing dan pesta puisi
Pada buku yang berkubu-kubu
Dan pisau kuku disempit alis waktu.
Tuak pada cangkir menjadi sebuah kegelisahan
Dua cincin siap pakai dan kalender tua.
Menjadi nimbus-nimbus kecil dikepala kucing.

Judul masih saja hilang
Puisi masih jauh dari mata aksara.
Sikucing datang dengan enggan ke pesta
Tak ada puisi, hanya belang dan meong dipunya
Juga kegelisahan dengan dua nyawanya
Setelah berulang kali mati ; patah hati, bunuh diri, ditinggal pergi
Dan dia berpikir, mati seperti apa lagi kali ini.

Calak mata kucing menerangi langkahnya
Namun tak menerangi belangnya.
Meong merupa doa, semoga ia tak berdosa
Datang tanpa puisi dan sekantong duri.
Mata jendela terbuka, judul masih lengang kata-kata
Kepada induk pintu ia mengetuk, betapa meongnya ingin masuk.

Tiga teko dari toko
Dan cincin dalam tirai, telah menjadi tirau
Yang siap menumpas jambang-jambang ingatan
Seperti kopi menumpas kantuk pada pesta
Dan ngiau menumpas meongnya.

Dingin yang berlalu lalang, dan bulan yang tak datang.
Sikucing bermeong-meong saja dimakam induknya
Bahkan meongnya pun tak tahu meong apa yang sedang ia meongkan.

          Kau menutup buku, dan berkata.
          "Lebih baik kehilangan belang      daripada kehilangan meong"
          Kaca-kaca pada matamu mulai berjatuhan.
          "Apakah kopiku telah menumpas kantukmu?"
          "Ya, matamu telah menumpas dinginku"
          "Apa yang kau curi dari mataku?"
          "Waktumu, kau adalah kucing waktu yang diburu kecemasanku,
          Sehingga kau berlari dan tak dapat kembali"

(Jatinangor, 2017)

Selasa, 22 November 2016

Tidur dalam Secangkir Kopi

Aku tidur dalam secangkir kopi
Yang mengingatkanku kembali
Ketika aku dan kertas saling berhadapan
Membaca kekosongan

Aku akan tidur dalam secangkir kopi
Saat ingatanku ditumpasnya berkali-kali
Bunga mana yang harus aku bawa pergi ?

Aku ingin tidur dalam secangkir kopi
Yang mengendap karena kesedihanmu
Yang pahit mengupar kepedihanmu
Yang harum serupa kekasihmu
Yang pulas walau banyak cemasku

          Selamat malam, meski telah pagi
          Terlalu banyak kopi malam ini,
          Hingga mataku terjaga dari mimpi.

(Jatinangor, 2016)

Senin, 21 November 2016

Yang Selalu Bertamu, dan Tak Tahu waktu

Ada yang tanggal
Dari cinta yang kau susun diatas kepala
Menuntunmu untuk segera lupa
Bahwa rindu yang tak kunjung rampung
Akan merupa luka

Ada yang tinggal
Dari cinta yang kau kenang dikeningmu
Membujukmu untuk selalu rindu
Bahwa cinta yang rontok disepanjang malam
Tak dapat ditahan oleh payungmu

Ada yang tetap tunggal
Dari cinta yang kau bawa hujan-hujan
Memberi luka yang laku disaku
Meski rindu tak pernah datang dengan utuh
Namun ia tetap tinggal, dan tak pernah tanggal

(Jatinangor, 2016)

Selasa, 01 November 2016

- 04.20 (Sebab rindu ialah perjuadianmu dengan waktu) –

Di senin pagi ;
Aku bercerita kepada sunyi,
Yang berdiam sendiri dan sembunyi.
Kepada aku yang bersembunyisendiri
dalam diam yang sunyi.
Menunggu kertas yang hujan,
dan hujan yang kertas
Mencari bayang mungil yang tak terpetik
didalam mataku yang celik.

Tubuhmu yang kian dingin
tak putus mengalir ke pucuk-pucuk jari
tempat aku menuntaskan semangkuk rindu,
pada perahu yang kau gambar dengan air matamu.

Musti aku menggambarkannya berulang kali
meski dengan rindu yang kau berkati
Sebelum kau pulang dengan sepatu bututmu.
Dan ada semangkuk welingan untukku.
Bahwa didalam mangkuk itu ada seseorang
yang sering dicekam rindu. Yang selalu
meluangkan waktu untuk dicekam rindu.

Aku sering menulismu pada sajak 4 kwatrin sore
tempat kau menyuguhkan secangkir rindumu
yang lugu dan masih polos-polosnya bermain-main
diatas bibir cangkir memanggil bibirku yang panas namun menggigil.
Kau berceritera kepadaku, namun aku tidak bersembunyi
karena diam yang sunyi sudah pulang kerumah, ibunya tadi
memanggil lantaran ia belum mandi, sikat gigi dan cuci kaki.
Ternyata dia lebih polos dari rindumu itu.

Bibirmu yang biku kembali menyusun kata-kata.
Kau berkata ;
Rindu ialah perjudian antara kau dan waktu,
namun kau selalu kalah karena waktumu terlalu
banyak untuk dikatakan waktu. Sehingga setiap pagi dan
malam, adayang mengetuk pintu waktumu
menagih sejenak untuk kau merindu.
Sebegitu getir bukan? Katamu.
Aku berkilah, bahwa nasibku lebih getir
untuk dikatakan getir.

Apa yang tersisa dari rindumu?
Air mata
Ternyata kau menimang air matamu pada
cangkir yang tersuguh di depan mataku.

Entah bagaimana caranya rindumu berhasil
membuat bibirku ingin mencumbunya
ku kecup lembut bibir cangkirmu
padanya, aku merupa noktah agar aku tahu
seberapa hitam kesedihanmu.
Dan rasa itu kini mulai menggenapi
Pikiranku berulang kali
Yang aku tahu ;
Bahwa begitu getir air matamu
segetir rindumu yang tidak bisa
kusamakan dengan getir pada nasibku.


(Jatinangor, 2016)









Sabtu, 04 April 2015

Riwayat 4 Cangkir dalam Hujan

/1/
Cangkir pertama :
     Semalam pagi aku mojok dibibirmu.
Aku lahir ke harum hujan.
Dimana yang akan menuangkan anapes,
yang aku hidu dari bibirmu.
/2/
Cangkir kedua :
     Semalam pagi aku nampang di cermin matamu.
Pagi ini Tuhan sedang menulis puisi
dan minum kopi.
Di cangkirNya Tuhan membubuhkan aku
Agar hitam nyata dari mataNya.
/3/
Cangkir ketiga :
     Semalam siang aku ngacir ke jingkrungmu.
Nasibku diombang-ambing bolpoin rumitmu.
Kau menuliskan aku, mengapung diatas porselen ibuku.
Agar setiap paginya aku bisa mengecap nasibku
pada porselen itu dan merasakan kopinya.
" kopiku lagi ngantuk... "
/4/
Cangkir keempat :
     Semalam sore aku menyeruput rinai dalam matamu.
Mesti kau tahu,
aku adalah penumpang, yang sering
kau tarik ulur.
Padahal aku adalah angin, yang
sedang makan bersama dengan hujan
di perjamuan terakhir.
- Bogor, 2015 -

Kamis, 02 April 2015

Selasa, 31 Maret 2015

Minggu, 29 Maret 2015

Dadu

/1/
Biarkan kepalamu hangat di tenggarang. Agar dapat kita kumpulkan uapnya dalam cawan gerimis. Gerimis saja, agar dapat kita hemat untuk jamuan berikutnya. Sebenarnya, tenggarang ini telah aku panaskan sejak matamu lekat di jidadku yang tak semanis jidadmu. Dan kusimpan panasnya sambil memiuh dingin, mereguk angin, angin dan dingin, angin dari dingin.
/2/
Istriku baru bersalin minggu lalu, setelah sesuku jam aku menantikannya didepan pintu sambil mengalas perut yg kalut tidak karuan. Seonggok daging yg menangis serupa kaing-kaing yang seolah terjepit diketiak dukun beranak. Membuatku mengusap mulutku pada pantalon biru yang istriku jahitkan runut senyum di bibir pasinya, yang kini mulai mudar warnanya, disapu puisi dalam pikiranku. Dia berkata ;
" Peci aba kupat dikepalamu, tapi bajunya pas di pikiranmu."
/3/
Rahasia resep Tuhan dalam puisiku :
Sebaiknya kau menulis puisi sejak dalam tidurmu. Agar hujan yang rontok dalam mimpimu, terjaga kedalam jingkrungku. sajak tumpas bantal menggantung dikelopak matamu, yang dituliskannya secara rapi dan tipis. Setipis kulit ari-ari dalam narasi ' Manakala jasadmu pucat pasi'. Dalam secangkir kopi, aku mencelupkan jari manisku dan mengaduk bubuhan huruf yang belum larut menjadi kalimat dan jingkur. Aku menitipkan jingkrungku dalam jingkrungmu. Agar setiap sajak dalam jingkrungmu, Tuhanku mengAmiinkannya.
/4/
Hari ini aku akan bersiwak
sebelum kau siwak epitafku
/5/
Kami adalah buku harian yang rapuh. Meminum ceritamu yang hanyut didalam cangkir. Setiap tegukannya kami selalu siap, bilamana Izrail bersiap dengan pisau kukumu. Kami tau bila tubuh kami akan dipotong kecil-kecil, dan dibuang dalam pikiranmu. Didalam pikiran itu kami menyaru seperti buku, menuliskan rahasiamu pada botol-botol waktu. Bahkan rapalanmu selalu kami ingat. Dan kami berusaha mengkremasi diri kami sendiri. Agar kami jadi seperti yang kau rapalkan. Menjadi sarung yang membedung ceritamu dari surat kemeja.
/6/
Harap kau tahu
Pada setiap titik dadu
Jangan kau samakan dengan darahmu.
- Bogor, 2015 -

Sabtu, 14 Februari 2015

Selter Puisi

Jalanlah hari minggu, lihat
Almanak dinding yang setengah terbakar
Jalanlah bila merayap di angka 14

Malam menyuruki liang langit dengan peruk.
Ini malam puisi atau puisi ini malam.
Dari buku yang kubaca, pernikahan sebuah
puisi tidak lebih dari sekadar menggabungkan
kata-kata. Kata yang mengecup kaki
angin dalam perahu yang berlayar
kemeja Tuhan, lengkap
dengan getah anagram dalam mangkuknya.
Pada jas dan gaun, bahu lekat di lekuknya.
Seakan jas dan gaun itu langsung dijahitnya
ke badan huruf, setelah disadapnya
getah kata yang ditampungnya dari
pohon para, dan disetrika dengan
hangat yang direguknya dari uap kopi.

Yang sepi, sesepi kopi dalam pikiran pengunjung.
Mereka seperti menyaru dengan anggur,
anggur tahunan 1893 dari botol-botol
waktu yang siap mengupar bentuknya di bait Tuhan.
Tak mungkin jadi sampai demikian benar,
mata mereka yang awas, awas benar,
seakan paham dapat dibaca, seperti membaca
koran, seraya menunggu acara pemasangan
anapes ( cincin dari adat puisi ).
mempelai melenggang canggung ke baris
pertama di bait pertama. Seakan asing akan
baris itu. Anapes dikeluarkan dari masing-masing
kantung lambung. Yang telah dirangkainya
secara pelan-pelan, biar sepatah demi sepatah
agar menjalari segala saraf-saraf hurufnya.
Kedalam segelas anggur anapes itu
meluruh dan menguap. Sehingga
mereka menghidu aroma seperti rasa lapar.

Para pengunjung sibuk menghabiskan
surat anggur dalam surat gelas.
Sambil melemparkan tawa rintik-rintik
disela kornea mata bulan.
Menghidu secangkir aroma
kopi. Dan asapnya yang mengepul
dari bawah hidung. Dari balik
cangkir kopi aku mencalang.
Mempelai sedang bercermin dalam segelas
anggur, seperti ingin melihat huruf demi
huruf yang berangsur menyusun kalimat
hingga menjadi sebuah sajak baru.
Yang aku pikirkan, bagaimana membedakan
laki-laki dan perempuan ?
Apakah puisi mempunyai jenis kelamin ?
Kukira yang laki-laki melayang
dan berkata ;
“ hiduplah ! ”

Aku pulang dulu, boneka tua telah
menyinyiriku untuk pulang dan mengemulkan diriku.
Sudah larut malam bagi penyair sepertiku.
Kuharap putri malam datang menjemputku
dengan binar dimatanya. Sehingga aku tak
harus bermain kejar-kejaran dengan bayangan.
Tapi, bolehlah aku kesini lagi,
melihat anak puisi yang terlahir dari
kaki-kaki para pengunjung. Puisi kecil,
huruf kecil, serupa gigi barunya yang
kecil-kecil, yang tumbuh dengan demam,
belum bisa membaca, tapi hanya bisa mengeja.
A... Ba... Ta....



- Bogor, 14 Februari 2015 -

Jumat, 26 Desember 2014

Sepatu

Kemarin aku baru pulang dari loak,
membawa sepatu dari loakan. Sepatunya
rada bagus, hanya kurang rima pada
warnanya, juga artikulasi pada mereknya.
Sudah lama aku ngidam sepatu ini,
tiap pagi aku pergi ke tengah kebun dan
mengumpulkan embun pada botol-botol
waktu. Bisikan rahasiamu pada botol itu
aku pindahkan dalam secangkir kopi
yang adzan mengapung diatasnya,
agar bisa kunikmati sambil mojok di
depan cermin, di depan halusinasi.

Aku menjual embun itu ketika Tuhan sedang
libur, sambil menulis puisi dan minum kopi.
Pada cangkir kopinya aku mengetuk, minta
berkah pada embun-embun yang ku jual
untuk pemabuk gila di warung kopi agar
uangnya bisa untuk beli sepatu, sepatu
yang membantu ibu menanak kata-kata
untuk dijadikannya sajak pada keningnya.

Tuhan sedang membaca sajak kita
Sajak yang kita tanak dengan sepatu

Seringkali aku mencelaki embun itu dengan
sajak di kening ibu, agar mereka juga bisa membaca
larik-larik yang ditanak ibu. Terkadang
pula embun-embun itu tak tersentuh sehingga
aku menyaru dalam pikiran, pikiran yang mengembun,
aku ikut mengembun. Aku panggil-panggil pemabuk itu
agar meminum embun, dan menyaru dalam pikiran mereka.
Ibu menyulut kepalaku dari bawah kakinya, aku menguap,
menguap dari botol, menguap dari pikiran. Ibu berkata ;
“ Kau tak perlu mengembun, pemabuk itu telah minum
embun sejak dalam pikiran mereka, uangnya dititipkan
dicangkir Tuhan, agar kau bisa kencan dengan-Nya”

Warung tutup ketika aku dan senja
tak ayal untuk pulang, pulang pada rumah
kata, kata pada sepatu. Aku titip salam pada
pemabuk gila itu lewat weling di pintu warungku,
meninggalkan embun kesukaannya dan pamit pulang.
Aku ingin kencan dengan Tuhan dulu,
berterimakasih atas berkahnya pada embunku
dan menyuguhi kopi pada cangkirnya. Kalau
Tuhan mau, aku juga punya sajak-sajak
yang kutanak dengan sepatu baruku. Baru
tapi bekas, bekas tapi baru, Tuhan yang baru,
aku yang bekas, senja bekas di langit
dalam cermin yang berangsur meluruh.



- Bogor, 2014 -


Senin, 22 Desember 2014

Ibu : Dalam Puisi


  : untuk ibu

Menjadi seorang penyair itu mudah,
kau tinggal membuat secangkir kata dan
mencicipinya. Terkadang dalam cangkirmu
kau lupa membubuhkan kata “tutup”
Sehingga kau tak bisa pulang dengan lampu
yang redup. Ibuku penyair hebat, dia rajin
memungut kata-kata yang jatuh di jalanan
dan membubuhkannya kedalam cangkir kataku,
dia berkata “ Bentuk aku dalam puisimu ”

Terkadang ibuku adalah sajak yang menemani
sajakku yang sedang duduk melamun diatas
batu pada sungai-sungai pikiranku. Gerimis yang rontok
di sungai-sungai, membuatku mengombak, hingga
mengenai sajaknya, beberapa kata yang dia pungut
hilang mengalir dalam kerongkonganku. Tapi dia
selalu memungut kata yang baru dan disimpan
kedalam matanya. Entah apa yang diperbuatnya
terhadap kata-kata itu, sehingga kata-kata itu
menyerupai lensa puisi matanya.

Suatu malam aku pernah melihat ibuku
mengeluarkan bundalan rubaiatnya. Bundalannya
tebal-tebal, setebal judul rubaiatnya. Pada suatu
judul aku bertamasya. Berjalan pada huruf-huruf
rubaiatnya. Yang akhirnya tersusun kata pada
judulnya “ Anakku : bubuhan kata terbaik untukmu ”
isi rubaiatnya tidak terlalu panjang, hanya sepanjang
kulit ari-ari. Beberapa kata hilang, sehingga aku
mencalangnya dalam kata-kataku, pada akhirnya
aku pelan-pelan berjalan pada baris terakhirnya.
“ Puisi di dalam aku, sebagian kata tertinggal di puisimu ”


- Bogor, 2014 -



Senin, 13 Oktober 2014

PEKAT

Anak yang lahir dalam puisi, adalah
getar saraf lilin di kelip mata hitammu.
Yang kerlingnya menyulut larik demi
larik dari setiap sajak penyair, ketika
ia lebih tahu kepada jari yang rajin
menyimak untuk menunggu gerhana yang
sedang berdoa dalam sepotong senja yang
mengintip di balik awan separuh mekar.


Kucari kau dengan sudut matamu, berkilauan terkena bulan...


Putri malam datang membawa pendar purnama
dan seuntai senyum di bibir pucatnya menemani
sajak-sajakku. Bahkan membuat aku tidak jemu
tergeletak di matanya yang gumintang.
Dan diwaktu yang pekat, wajah putri malam
selaras dengan telekung yang di beri Tuhan
pada pekat malam. Titah bulan yang seakan turun
mendekati kepala malam yang merayap dari
keringat waktu yang meleleh seperti lilin,
di lekuk dekik wajahnya dengung tasbih dan
tahmid kerap di gumamnya satu suara yang terdengar
begitu ringan, seperti menyebar di udara
dan menyintas telinga-telinga pekat keringat.


Bila pula pendar bola matanya masih bergumintang,
ada yang meloncat dari tubuhku, tapi selain sepi, dan
semua seolah sembunyi yang selalu bergaung di
pekan ruang tubuhku dalam bait-bait sajadah
yang melamar Tuhan di sepertiga waktu yang pekat.


Bila kau tanya dimana ruh mu putri malam...
ruh mu sedang ku pinjam untuk bersajak malam ini...


- Bogor, 2014 -

Rabu, 03 September 2014

Mata Cermin

Malam ini aku akan tidur di matamu.
Matamu yang serupa mata kucing di pekat 
malam. Sehingga aku tak perlu 
membawa perhiasan untuk tidur di matamu
karena binarnya lebih dari kata hangat
sekedar nafas di jamuan gulingku.
Dan selagi aku tidur jangan kau katupkan
kelopak matamu yang mulai ragu itu,
membuatku terjatuh pada taringmu
serupa taring anak macan yang
izrail menungguku disana bersama pisau dapurmu.

Dari pantulan cermin yang berkarat
aku mencalang matamu yang malu itu
masih ragu. Dan aku menunggumu
yang ragu sedang bercermin dengan khusyu
sembari mencelekkan matamu kemudian
mengatupkannya lagi. Kalau begitu
jemputlah aku di cakruk kepunyaan aba.
Aku akan menunggumu sampai kau tidak ragu
di cakruk itu sembari melepas rindu
milik aba yang telah berkaing-kaing
hingga jantungku menggigil sempurna.

Jangan terlalu lama kau khusyu bercermin,
menilik hidungmu laksana kuntum seroja.
Karena sekarang sudah pukul 21.00 , jam ini
terlambat 1 jam dari kewarasannya. Bukan
aku yang membuat jam ini gila, tapi gadis
yang dulu matanya pernah aku tidur
didalamnya. Tak ada keraguan dibola
matanya dan binarnya yang hangat.
Hingga aku dan jiwaku sempat menari disana
kemudian tidur dan terbangun di lensa
matanya, aku sempat memandangi kelopak matanya
namun dia hanya berkata ;
“Tenanglah, sengaja tak kuundang izrail di taringku,
dan ku buat jam ini gila agar kau bisa lebih
lama tidur bersama binarku di mata ini”

Dan sekarang dingin mulai merebahkan badannya
yang letih diatas badanku.
Kukira kau lama sekali didepan cermin.
Sebegitu khusyukah kau bercermin ?
Dan membersihkan cermin itu dari
karat yang menghinggapi bingkainya ?
Hanya sedikit yang bisa kulihat,
kulihat kau tertidur dimatamu sendiri,
agar kau tahu betapa ragu matamu.

- Bogor,2014 -

Senin, 28 Juli 2014

Surat Senja

Pikiran saya makin beranak pinak setelah
citramu menggabak di ujung bibir-bibir
harakat ingatan setengah dusin warsa yang
hilang bersama sebatang lidi yang kini
tertutup rapi oleh surat senja yang tergelincir
diubun-ubun bualannya. Dan sebuah
sesal yang dipintal oleh secangkir teh
yang tersedu untuk hujan pada senja
yang sunyi berbaring pada setiap detiknya.

" dari masing-masing bibir kita mengundang maut
   untuk menyisakan asap dalam sandiwara kita "

saya terjaga dari mesra kelambu yang
menjaga lelap dan meletakkan mimpi
di pinggiran bantal yang mengerang
seperti ingin berkata;
Percuma! air matamu terendam tawa
yang setiap incinya dihitung dosa

saya menarik sebait nafas yang
gemuk-gemuk untuk saya bedung
dengan cindai agar tak mengembun
ketika kusimpan untuk senyum kita
yang bermekaran disapu angin
yang tak tertunggang.

hanya sisa retas mimpi yang
memikirkan seekor kunang-kunang malang
yang mengutuk diri terlalu mudah untuk
memagut sakit yang kalut karena berbohong.

ketika dampal Tuhan telah menjejak
saya ingin pulang bersamamu
agar saya dan kamu dapat menikmati
kata demi kata dari sebait nafas yang 
kubedung sembari menyambut senja yang
datang di teras rumahku, hingga
senja tenggelam dalam pikiran kita


Bogor,2014

Jumat, 11 Juli 2014

Bagawatgita

Rahasia dari bibirku yang menyimpan
bau hujan, di tepi-tepi bulan terbenam
seperempat cemas merentangkan tangannya pada
lentik alis malam, dengan kerecik yang
merincis sisa malam yang rabun
sekercit syair yang gemetar dalam
gigil sempurna, mencucuki bola
mataku yang ranum menatapi
monolit seekor kunang-kunang berkelebat
dalam pucat malam.

"Apakah yang telah memautkan kita selain kata, bagi penyair, setiap kata prahara belaka" 
Malam telah dihidang dalam celah
kalimat sebuah sajak ke pundak keributan saat
petang lengang itu, dan petang mengingsut sulur ingatan
sembari merapal doa dan melongok pada
tingkap petang antariksa, di alis hampa udara
dalam doa-doa yang terkurung dalam
bilik kata-kata pada tiap
lembar-lembar kosong malam yang kian beruban

Membisiknya seteguk sajak, sealir syair yang
merembesi rembulan dari sela-sela kornea matamu
dulu, yang berulang-ulang bergaung lalu mendadak
canggung dan bingung, merajut harakat
ingatan-ingatan kecut yang tak tanggung
di gulung dan pergi tak pernah berbagi
lagi, adalah kata-kata "membalut luka
setelah kisah" seperti langit senantiasa
berbasa-basi pada malam. Lalu menghidu
keinginan lain dari sisa-sisa gelap. Namun
menyala ketika citramu memudar murung.

"Aneh, kau menemukannya tanpa runut lain di belakangnya tanpa siang sepi."
Aneh runut selanjutnya tidak wajar
sepertinya "aneh" itu mengandung kepastian
tapi sebenarnya tidak, hanya untuk mengikis rasa
malu karena menghindari kewajiban. Sebelum
terkikis, keraguan melilit. Setelah terkikis,
kekalutan memagut, dan terbakar dalam
beku sajadah dalam nadiku berbaur dengan
desah doa-doa tersasar di sebelum subuh
yang ranum muncul perlahan di sisa hangat
setiap mimpi-mimpi.

-Bogor, 2014-

Sabtu, 21 Juni 2014

WELING

(Selepas sembahyang shubuh)
aku membuka bufet disamping pintu ruang dapur
yang ingin kulihat --
menu apa saja pagi ini, apakah harus dengan pisau dan garpu
atau sendok saja cukup

tempe orek cukup kukira untuk pemanasan gerahamku, dan
secangkir teh untuk kumurannya
karena, aku lebih sukasatu menu lauk untuk
teman nasi lesi ini

kali ini aku lebih suka ringkuk di tikar untuk
pelatihan pagi ini, sambil menyambi ritual
penyambutan calon senja datang di pelataran rumahku

"seperti tirau saja ni datang"
sambil menyeruput teh bersama aromanya
ni rinai dan kelihatannya sedang merapalkan sesuatu

ni mulai berbasa basi tentang calon senja yang
datang seperti tatapan polos gadis kecil
dan ricau burung merinai

"Bagai sentuhan jari di tabla ya..." ni merona
lalu ni menuntunku kepada ; "risalah itu"ucap ni
seperti tokoh pemeran fabula. Tepatnya
tokoh laya di tajuk samsara

monosem itu hanya mempunyai satu makna
yang membuatku mengusapkan mulutku yang belepotan dengan
pantalon hitam yang kupakai
aku khawatir, pernahkah aku mengatakan
"aku mencintaimu" di pesanku


- Bogor, 2014 -

Sabtu, 19 April 2014

4

Tidak ada mirai di jendela
atau seseruput cahaya
ia melepas alas dampalnya (secara tak terdengar)
dengan tangan rajin yang menyimaknya.

Lalu dia tersenyum (mungkin untukku)
adalah waktu yang larau, dari senyumnya
yang aku tahu
di alis matamu, kekasih
tempias hujan menulis malam.

Demikianlah, surat senyummu yang
melintas sebentar, lantas hilang bersama dirimu.

-2014-
# Puisi Laila