(Selepas sembahyang shubuh)
aku membuka bufet disamping pintu ruang dapur
yang ingin kulihat --
menu apa saja pagi ini, apakah harus dengan pisau dan garpu
atau sendok saja cukup
tempe orek cukup kukira untuk pemanasan gerahamku, dan
secangkir teh untuk kumurannya
karena, aku lebih sukasatu menu lauk untuk
teman nasi lesi ini
kali ini aku lebih suka ringkuk di tikar untuk
pelatihan pagi ini, sambil menyambi ritual
penyambutan calon senja datang di pelataran rumahku
"seperti tirau saja ni datang"
sambil menyeruput teh bersama aromanya
ni rinai dan kelihatannya sedang merapalkan sesuatu
ni mulai berbasa basi tentang calon senja yang
datang seperti tatapan polos gadis kecil
dan ricau burung merinai
"Bagai sentuhan jari di tabla ya..." ni merona
lalu ni menuntunku kepada ; "risalah itu"ucap ni
seperti tokoh pemeran fabula. Tepatnya
tokoh laya di tajuk samsara
monosem itu hanya mempunyai satu makna
yang membuatku mengusapkan mulutku yang belepotan dengan
pantalon hitam yang kupakai
aku khawatir, pernahkah aku mengatakan
"aku mencintaimu" di pesanku
- Bogor, 2014 -