Tampilkan postingan dengan label Desember'13. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Desember'13. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Desember 2013

Rumah Kotak

     Pada tiap-tiap rumah. Tersanggah kata di daun jendelanya. Pada ventilasinya tersungging senyum yang mekar di musim panas. Corong-corong yang menampung sunyi di sudut lembab yang berbinar. Pondasi rumah kotak ini binar yang mengedip lalu redup setelahnya. Sehingga rumah kotak ini kusut sesaat.

Minggu, 29 Desember 2013

Sandiwara kosong

      Kami berdua datang dengan tema yang salah, namun kau datang dengan ketidak sengajaan. Lalu aku berpura-pura, sandiwara kosong yang pahit di belakangny. Dia hanya melihat kepahitannya. Tapi apakah ini sebuah realita ? Aku segera terbangun. Sandiwara kita membosankan.

Sabtu, 28 Desember 2013

Untuk Apa

   Untuk apa aku terbang, hanya jadi pajangan pada setiap jendela yang terbuka. Lalu menutupnya lagi ketika tak ada sapa yang berkata. Untuk apa pula aku bersujud, apa pedulimu. Anjing liar ini telah gila dalan setiap rancangan yang salah. Dan lebih banyak kata yang “Diharapkan” pada kenyataan yang berselang di pintu. Sebenarnya mimpi ini tak akan hilang dalam butiran jemari yang merangkak. Namun, untuk apa aku terbang ? Dia hanya meninggalkan luka.










Jumat, 27 Desember 2013

Hati Yang Usang

     Belum sempat terdengar rasa pahit yang terapung di bibir. Namun kata itu tersangkut di tenggorokan hingga membuatnya tertelan lagi. Seperti biasa, pahit itu terus berulang. Hingga pahitnya usang. Dan usang menyelimuti hatiku. Sekarang hati yang usang.

Apakah Masih


     Apakah masih sama dengan kemarin ? Mungkin ya, tidak juga tak menutupi.kabut diperapian yang menyelipkan kehangatan, kini padam dan dingin. Kucing rumahan yang kau punya, bisa membuat semangkuk bias pelangi larut didalamnya. Sehingga kau menepukkan tanganmu melihatnya. Tapi anjing liar ini tetap berada di jalannya, bersama anjing liar lainnya. Namun apakah masih sama dengan kemarin ? Apa yang bisa anjing liar ini lakukan itu yang dia bisa.

Kamis, 26 Desember 2013

Akhir

      Peduli apa yang kau tanamkan pada seuntai kalimat yang memanja keluar ? Tanpa balas bertepuk di keringatku, yang hanya ingin terutara untaian itu. Aku tahu surat kecil yang bernamakan aku hanya jadi pijakan lantai halaman rumahmu. Atau hanya jadi penghias di tempat pembuangan. Dengan sengaja kau bermain badik di depanku hingga membelai halus kedua kakiku dan menampar kasar lututku sehingga aku berlutut didepan kepiawaianmu memanjakan badik itu. Jika tak ada balas yang menepuk bahuku, mungkin akhir dari 189.216.000 butir debu yang kuhitung adalah ini. Atau disana kau berbagi rahasia dengan kucing rumahan ? Tapi apa pedulimu ? Takkan ada ! Untuk anjing liar sepertiku.

Senin, 23 Desember 2013

Khayalan Malam


     Pada setiap daun mimpiku, aku selalu memainkan kapur yang tenggelam pada setiap tengorokan mereka. Lalu, aku mengelupasi butir-butir mimpi yang terkikis dari jasadnya. Sampai pada sebuah jalan malam yang terletak di pinggiran bibir cangkir teh ini.

Minggu, 22 Desember 2013

4


Aku menungging pada saat bintang yang bersulang...
Disaat aku menghitung, kini tinggal 4...
Tapi kini itu hanya jadi kabar merpati...
Sekarang cahaya baru masuk dengan pu...lihnya
Dan kau kini tenggelam...
Meski ...
Tinggal ...4
Meski...
Dulu aku berucap
Selamat...

Jumat, 20 Desember 2013

Tuhan


     Arti yang ada sekarang ini, adalah jalan pada seutas tali pada daun jendela yang lama tak terbuka. Sebenarnya aku sendiri meminum arti aku pahit yang dibuatkannya untukku. Sengaja, namun pada akhirnya aku terhadapkan di bibir cangkir yang kau sungguhi. Aku terduduk di sebuah garis pembatas yang kau nilai untuk aku. Ya aku mungkin.
      Tapi bolehkah aku meminta ? Ku mau ku tak akan kembali lagi karenamu atau dari jeritanmu. Aku hanya ingin yang itu saja sama dengan yang sebelumnya. Maka kutulis “Menyesal”.

Jumat, 13 Desember 2013

Hari Yang Terlapisi Senyum


     Aku tahu ini waktu aku yang berlalu. Diakah yang mengutarakannya? Disaat malam jatuh rintik-rintik. Bagai seorang putri kecil yang menyelinap sebelum adanya lonceng yang menggumam. Oh … selamat aku. Dan dia berdiri didepan pintu yang menembus keluar pandangan. Belum selesai ini.



Senin, 09 Desember 2013

Pesan Dari Mimpi


     Misteri buatan yang tertelan dalam segaris mimpi dan yang menyungguhi kopi pertama pagi ini. Dan hadir diantaranya, engkau bermain dengan jarak pandang sehingga engkau bisa terbang jauh-jauh. Dan disaat itu aku sibuk menghitung hari. Tanpa ada undangan kau datang dengan deretan depanku. Yang waktu itu aku meneropong lewat celah matanya. Dan kamu datang disaat aku mengintai engkau. Kamu dan engkau punya cerita lebih jauh. Dan siapa yang benar ? Engkau ? Kau ? Kamu ?

Minggu, 08 Desember 2013

Kata Angka


     Hampir aku lupa membagikan kata-kata yang kau impikan setiap harinya. Dan kau senang akan kemalangan yang belum terlihat. Karena disetiap awal kata terselip kata “Manis”, termasuk dikataku. Yang sebenarnya, lupa saja tak memasalahkan angkaku.
     Kau terhibur atas permainan angka yang di sematkan mereka. Kau tahu, kalau kau akan berkurang seiring waktu bersulang. Dan kau akan tahu setelah adanya suatu ketiadaan.

Goresan


Goresan-goresan yang mengingatkan aku...
Pada sebuah deretan huruf dan angka...
Lalu disulamnya menjadi cerita...

Jumat, 06 Desember 2013

Lepas

   Untuk saat ini aku lepaskan. Mungkin hanya tulisan yang melukiskan aku dengan kata-kata. Dan aku muncul di tiga perempat saat aku mataku tertutup. Ya akan kulepas seperti pada sebelumnya. Lalu pergi ke tempat yang menjauhkan aku dari gapaian mereka.

Aku Yang Mati

   Nanti, aku akan melanjutkan skenario ini. Sedangkan aku mengunggah banyak cerita. Aku bingung, aku mati dalam keramaian. Sendiri, lusuh dan menatap sedih yang memanggil di tepian. Walau aku mati, aku mengais setiap mimpi yang kau beri. "Tuhan padamkanlah aku...", oh itu.
   Bagaikan akau yang merusak tajuk diatas nafas. Tak perduli kau menyuruhku merangkai lutut di atas luka yang meredamkan aku atasnya. Aku mati.

Rabu, 04 Desember 2013

ABCD


          Dibelakang namamu yang tersangkut huruf A, yang mungkin bisa juga kata nama. Kemudian B ikut menyelinap masuk, sampai C dan D memperebutkan setelahnya. Tapi bukan A maupun B yang ku tanam di pekarangan. Melainkan S yang akan bersarang di taman. Sedangkan C dan D hanya penari latar.

Dulu sekali


     Dulu sekali sebelum aku menumpahkan mimpiku. Aku ditanya..., tapi aku jawab penghapus. Aku ditanya..., tapi aku jawab nasi bungkus. Aku ditanya..., tapi aku jawab sederhana. Sepolos inikah aku? Mungkin itu dulu, tapi aku ingin tak ada kata dulu.

Senin, 02 Desember 2013

Langit Yang Terbunuh


    Seberkas cahaya yang masih mengapung pada langit. Lalu segerombolan gula-gula kapas yang merapatkan celah. Sehingga tak bisa kulihat apa yang di buatnya. Dan kini aku melihat darah langit menyebar di setiap sudut, merah saga melekat di setiap incinya. Ini adalah pembunuhan. Maghrib yang membunuh langit.

Minggu, 01 Desember 2013

Robek

Mereka mempermainkan potret itu. Membuat aku menendang hatiku. Sehingga mereka memperebutkan potret itu “Krek...”, kulihat potret itu terobek dari jasadnya. Lalu aku membunuh mereka satu persatu, sehingga mereka diam oleh kalam. Potret itu yang membuatku menangis.