Senin, 28 Juli 2014

Surat Senja

Pikiran saya makin beranak pinak setelah
citramu menggabak di ujung bibir-bibir
harakat ingatan setengah dusin warsa yang
hilang bersama sebatang lidi yang kini
tertutup rapi oleh surat senja yang tergelincir
diubun-ubun bualannya. Dan sebuah
sesal yang dipintal oleh secangkir teh
yang tersedu untuk hujan pada senja
yang sunyi berbaring pada setiap detiknya.

" dari masing-masing bibir kita mengundang maut
   untuk menyisakan asap dalam sandiwara kita "

saya terjaga dari mesra kelambu yang
menjaga lelap dan meletakkan mimpi
di pinggiran bantal yang mengerang
seperti ingin berkata;
Percuma! air matamu terendam tawa
yang setiap incinya dihitung dosa

saya menarik sebait nafas yang
gemuk-gemuk untuk saya bedung
dengan cindai agar tak mengembun
ketika kusimpan untuk senyum kita
yang bermekaran disapu angin
yang tak tertunggang.

hanya sisa retas mimpi yang
memikirkan seekor kunang-kunang malang
yang mengutuk diri terlalu mudah untuk
memagut sakit yang kalut karena berbohong.

ketika dampal Tuhan telah menjejak
saya ingin pulang bersamamu
agar saya dan kamu dapat menikmati
kata demi kata dari sebait nafas yang 
kubedung sembari menyambut senja yang
datang di teras rumahku, hingga
senja tenggelam dalam pikiran kita


Bogor,2014