Jumat, 08 November 2013

Lirih


        Lirihku bersembunyi pada tiap-tiap sajak dan tajuk yang usang. Seperti biasa, akau terdampar pada sebuah batu besar yang belum kau pahat menjadi patung. Tiga lembar aku menghabiskan teh yang sengaja ku tuangi nila, agar sedikit berwarna. Sebelum kau datang, aku menjual senyum. Dan akhirnya aku tak datang, dengan ini aku seperti berharap minta gula-gula kepada tuhan.
“Tuhan peluk aku sebentar, aku lelah dengan semua ini ” lirihku.

0 komentar: