Lirihku bersembunyi pada
tiap-tiap sajak dan tajuk yang usang. Seperti biasa, akau terdampar pada sebuah
batu besar yang belum kau pahat menjadi patung. Tiga lembar aku menghabiskan teh yang sengaja ku tuangi nila, agar sedikit berwarna. Sebelum kau datang, aku
menjual senyum. Dan akhirnya aku tak datang, dengan ini aku seperti berharap
minta gula-gula kepada tuhan.
“Tuhan peluk aku sebentar, aku
lelah dengan semua ini ” lirihku.
0 komentar:
Posting Komentar