Sesak
yang tertahan di kursi, tanda meresah di kesepian. Selagi duduk di
tepi curam yang panas, aku boleh bermain kata tangga. Kemudian lirih
tua berteriak. Sehingga aku harus berhenti di tempat ini. Lalu waktu
berlari setelahnya sehingga dia datang. Dan, tertatapkan aku, dia.
Adiksi yang menderang, lama sampai akhirnya keluar. Dan masih
panjang. Dia dihari itu.