Barangkali semalam aku duduk didepanmu
Berdua bayang waktu yang menyintas hari
Kepada aku, kau menyuarakan tanya dalam kepalamu
“Mengapa kau selalu membersihkan embun-embun yang
merayap pada kaca gerbong?”
Adalah aku,
Maja yang siap mengantarmu
Untuk pergi dan pulang ketika petang
Apalagi hanya untuk menyantap kantukmu
Aku tidak akan pernah lupa menulis puisi
Pada tiap-tiap perjalanan yang kau tempuh
Lalu menambalkannya pada roda-roda besi
Agar senantiasa hangat dari udara dingin
Yang terus mengetukmu untuk menggigil.
Malam ini maja terasa panjang
Sepanjang janggut ayahmu
Yang tidak pernah kita ukur
Seberapa menderitanya dia
Kau tahu?
Janggut itu terasa bersejarah
Bahkan pahitnya saja terasa sampai ubun-ubun ibumu
Saat kencan pertama, ibumu kagum akan janggut
kepunyaan ayah
Sampai-sampai kau lahir menggantung dijanggutnya.
(Madiun, 2016-2018)
0 komentar:
Posting Komentar